Mengenalkan Seni Melalui Kandaya di Opera Budaya

Riswanto
Posted By Riswanto
04 Sep 2017
Mengenalkan Seni Melalui Kandaya di Opera Budaya

Kandaya menyemangati mahasiswa baru dengan mengenakan danbo di waktu pulang. Foto: Dokumentasi Opera Budaya.

 

Namanya Divisi Kandaya, Pertunjukan dan Budaya. Ketika pertama kali mendengarnya, akan muncul sangkaan bahwa divisi ini adalah divisi yang mengurus hal-hal yang bersangkutan dengan kebudayaan, semacam kelompok seniman yang mementaskan pertunjukan atau tim yang mengurasi produk budaya untuk pameran. Ini tidak sepenuhnya salah karena Divisi Kandaya tidak dibentuk untuk pameran seni dan budaya melainkan untuk Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tingkat fakultas.

 

Dicetuskan sebagai divisi pada inisiasi mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya Unpad berjudul Opera Budaya, Divisi Kandaya adalah divisi yang mengkhususkan diri pada pertunjukan. Terdiri dari beberapa mahasiswa S1 dan D3 FIB berbagai jurusan yang merancang konsep seni untuk dipertunjukkan di depan Pramuda (Padjadjaran Muda), sebutan untuk mahasiswa baru Universitas Padjadjaran.

 

Pertunjukan yang dibuat tidak melulu membutuhkan panggung konvensional. Hal ini karena Kandaya juga melakukan pertunjukan di trotoar jalan dari gerbang utama kampus sampai FIB Unpad. Di sepanjang trotoar inilah pos-pos Kandaya siap menyambut mahasiswa baru dengan berbagai macam pertunjukan yang menghibur di pagi hari. Melihat konsep ini, bisa dikatakan bahwa pertunjukan Kandaya merupakan pengenalan dini ospek anti perpeloncoan di FIB Unpad.

 

Berbicara mengenai Kandaya dan Opera Budaya sendiri, Reza Fazlul Rahman, selaku ketua pelaksana, menerangkan: “Opera Budaya, PMBF bertajuk kebudayaan yang membawa nilai edukatif, rekreatif, dan anti perpeloncoan. Ditambah dengan adanya Divisi Pertunjukan dan Budaya (Kandaya) yang tidak dimiliki PMBF Lainnya.”

 

Kandaya pertama kali dibentuk pada tahun 2012 saat PMB FIB Unpad berubah menjadi Opera Budaya. Tujuannya untuk menyambut, menghibur, dan mengenalkan kesenian dan kebudayaan kepada mahasiswa baru FIB Unpad. Berdasarkan hal inilah, bisa dikatakan Kandaya merupakan salah satu representasi FIB Unpad selain Opera Budaya itu sendiri.

 

Wayang dan Budaya Massa

 

Kandaya mementaskan Ramayana di depan mahasiswa baru. Foto: Dokumentasi Opera Budaya.

 

Untuk mengenalkan kebudayaan pada mahasiswa baru, tahun ini Opera Budaya mengangkat tema dunia pewayangan. Tema ini tentu memengaruhi bentuk pertunjukan yang akan dilakukan Kandaya.

 

Wayang yang selama ini dikenal kolot, kembali dihidupkan dalam pertunjukan utama berupa kabaret wayang orang. Tokoh dan cerita kabaret diadaptasi dari cerita Ramayana. Agar terlihat modern dan memudahkan pengenalan kepada mahasiswa baru, cerita Ramayana didekonstruksi dengan penggubahan alur dan persilangan tokoh dengan folklor lain yang ada di Indonesia.

 

Meskipun identik dengan pertunjukan budaya, Reza menerangkan bahwa pertunjukan seni dan budaya Indonesia bukanlah satu-satunya spesialisasi ranah kerja Divisi Kandaya. Pemanfaatan hal-hal yang sedang viral juga kerap dijadikan materi pertunjukan. Contohnya pertunjukan parodi acara TV yang merupakan bagian dari budaya massa. Kandaya memanfaatkan acara TV yang pernah atau sedang digandrungi masyarakat di Indonesia seperti acara kompetesi bernyanyi dan acara klenik yang sempat viral di awal 2000-an. Selain itu, ada juga parodi tokoh-tokoh animasi tahun 90-an sampai 2000-an dan pertunjukan danbo karakter di waktu pulang.

 

Persiapan pertunjukan danbo. Foto: Dokumentasi Opera Budaya.

 

Dengan konsep rekreatif namun tetap edukatif, Opera Budaya mengenalkan seni dan budaya melalui Kandaya. Pengenalan sedini mungkin kepada mahasiswa baru ini dilakukan sebagai aktualisasi terhadap lingkungan nonfisik dunia perkuliahan di Fakultas Ilmu Budaya.

 

Terakhir, Reza menambahkan bahwa pengenalan seni kepada mahaiswa baru FIB sangatlah penting. “Dengan notabene mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), berarti kita harus kenal dan mendalami bidang ini. Konsentrasi terhadap kebudayaan dan seni harus ditunjukkan sejak dini, agar nantinya muncul budayawan, sastrawan dan seniman yang hebat.”