Mengenal H.B. Jassin, Pausnya Kesusastraan Indonesia (Bagian 2)

Riswanto
Posted By Riswanto
04 Sep 2017
Mengenal H.B. Jassin, Pausnya Kesusastraan Indonesia (Bagian 2)

Foto: Wocoan.com.

 

Karir H.B. Jassin tidak berhenti sebagai seorang dokumentator kesusastraan Indonesia dan penerjemah karya-karya dari bahasa asing. Ketertarikannya pada dunia literasi juga telah membawanya menjadi seorang redaktur, kritikus, dan penulis karya sastra. untuk yang terakhir, Jassin tidak terlalu menancapkan namanya sebagaimana dirinya sebagai seorang redaktur dan kritikus sastra. Namun tetap saja, Jassin adalah Jassin, dan apa yang ia buat sekurang-kurangnya telah memberikan distribusi yang luar biasa pada keberlanjutan sastra di Indonesia.

 

Setelah sebelumnya GudLak ID memberikan sedikit ulasan mengenai H.B. Jassin sebagai dokumentator dan penerjemah, kali ini GudLak ID akan mengulas sang Paus Sastra sebagai redaktur, kritikus, dan penulis karya sastra.

 

Redaktur

 

“Biarpun orang ternama, kalau karangan yang dikirimnya kepada saya menurut saya kurang baik, tentulah saya tolak. Sebab saya tahu bahwa seseorang pengarang yang baik,membuat juga karangan-karangan yang kurang baik.”

 

Sutan Takdir Alisjahbana (STA) adalah pembuka gerbang bagi Jassin untuk masuk ke dunia redaksi di Balai Pustaka. Sutan Takdir adalah salah satu guru Jassin. Pertemuan mereka berawal ketika Jassin lulus HBS Medan dan pulang ke Gorontalo. Ia sempat singgah dahulu di Jakarta untuk bertemu sang guru, Jassin adalah penggemar STA dan ia mengikuti tulisan-tulisan STA di majalah Pujangga Baru. dalam pertemuan tersebut Jassin mengaku mereka membicarakan budaya hingga sastra. Setelah sampai di Gorontalo ia ditawari bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka oleh STA. Namun tak langsung disambut karena ayahnya ingin Jassin bekerja sebagai amtenar (semacam pegawai pemerintah). Setelah 5 bulan ia pergi ke Jakarta untuk menerima tawaran STA dengan membawa surat STA dan tulisan-tulisannya yang pernah dimuat media cetak. Di sanalah hobi dokumentasi Jassin bermain, andai kata tulisan-tulisan itu tidak disimpan kemungkinan besar Jassin tidak akan diterima sebagai redaktur Balai Pustaka.

 

Sepanjang karirnya di media cetak, tercatat ia pernah bekerja di banyak kantor majalah, di antaranya: Pujangga Baru (1940), Panji Pustaka (1942-1945), Panca Raya (1945-1947), Mimbar Indonesia (1947-1966), Zenith (1951-1954), Bahasa dan Budaya (1952-1963), Kisah (1953-1956, dan Seni (1955).

 

Pamusuk Erneste dalam bukunya menjelaskan, ada beberapa tugas Jassin sebagai seorang redaktur yang mencakup hal-hal berikut: menolak karangan, menyetujui karangan, mengusulkan agar karangan direvisi, dan memberi nasihat pada pengarang.

 

Jassin sangat terbuka dalam menerima karya yang dikirimkan padanya. Ia menerima karya siapa saja dengan objektif menurut kriterianya. Ia juga memegang teguh etika dalam menolak karya yang dirasa kurang layak untuk terbit di surat kabar, dan akan mempertahankan alasan ia meloloskan karya. Untuk poin terakhir, ia memiliki keteguhan tersendiri dan tanggung jawab yang tinggi. Dan sebelum melangkah ke pertanggungjawaban Jassin atas karya yang ia loloskan, ada baiknya kita menilik bagaimana seorang Jassin menolaki karya-karya yang kurang layak terbit.

 

Jassin sangat menjunjung tinggi etika penolakkan dengan mengirimi satu-satu pengarang yang karyanya ia tolak, tak lupa menuliskan alasan dan saran-saran bahkan kiat menulis yang baik. Ulasan surat-surat Jassin tersebut dapat dilihat dalam buku Surat-surat 1943-1983 yang merupakan kumpulan surat yang ditulis H.B.Jassin. Jassin sangatlah selektif dalam memilih, namun ia menekankan bahwa tidak selamanya karya yang baik adalah karya yang memiliki konflik rumit, sebaliknya Jassin akan sangat menghargai karya sederhana namun memiliki kejernihan dan kemurnian rasa. Lebih baik puisi yang pendek namun berbobot daripada panjang namun miskin makna. Jassin juga tidak termakan nama besar pengarang, ia tidak segan menolak karya pengarang besar. Sebagai contoh, ia pernah menolak sajak Ajip Rosidi dan tidaklah mustahil untuk Jassin kembalikan.

 

Jika dalam setiap minggu ada banyak tulisan yang Jassin tolak, maka yang beruntung untuk terbit sudah pasti karya yang baik, dan Jassin akan berpegang teguh pada karya semacam itu. Contoh konkrit Jassin sebagai redaktur adalah pada saat cerpen yang ia loloskan, “Langit Makin Mendung” karya Kipanjikusmin sebagai nama samaran dianggap menghina agama Islam. Karena menolak untuk menyebut nama di balik Kipanjikusmin dengan alasan keamanan penulis, Jassin menghadap pengadilan sebagai pihak yang bertanggungjawab. Atas peristiwa tersebut Jassin dihukum tidak boleh menerbitkan buku dan ditahan bersayarat selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.

 

Tindakan Jassin untuk tidak mengungkap sosok Kipanjikusmin adalah bentuk keloyalan pada penulis yang karyanya ia loloskan. Dalam kasus ini, Jassin berpendapat bahwa tidak tepat jika sebuah karya ditanggapi dengan nilai-nilai yang berlaku pada realitas (dalam hal ini akidah agama), sebab sebuah karya adalah hasil imajinasi yang memiliki dunianya sendiri, lanjut Jassin jika sebuah karya diukur berdasarkan nilai dunia nyata, dikhawatirkan hal tersebut akan mempengaruhi kreativitas dan kebebasan pikiran pengarang yang hendak dituangkan.

 

Kritikus

 

Foto: Kompasiana.

 

“Kritik sastra yang ideal agaknya ialah yang melibatkan persepsi manusia secara pribadi, secara integral dengan alam pikiran dan alam semesta.”

 

Jassin sebagai seorang kritik memiliki kecenderungan menelaah semua karya penulis sebelum berkritik sehingga membuat pengarang baru merasa dirinya pengarang jika sudah dibicarakan Jassin. Aneh memang jika Jassin harus dijadikan barometer mengingat pada masanya bukan hanya Jassin yang melakukan kritik. Namun, ada banyak yang berpendapat bahwa yang membuat Jassin berbeda dari kritikus lainnya adalah ia produktif dan kualitas kritikan yang ia tulis sesuai zamannya. Ini yang disebut sebagai semangat progresif dan keluasan yang menyebabkan Jassin dapat bertahan lama sebagai kritikus. Selain itu, fungsi dokumentasi memiliki pengaruh besar pada kritik. Dokumentasi sebagai “lumbung” informasi membuat Jassin memiliki keleluasaan pada setiap kritiknya.

 

Syarat-syarat menjadi kritikus menurutnya juga berpengaruh pada kualitas kritikan yang dibuat. Seorang kritikus haruslah berbakat seni, bagi Jassin, mempelajari seni haruslah dengan pemahaman seni dan turut melibatkan perasaan pula, itu yang membedakannya dari kebanyakan kritikus yang mengkritik dengan dasar-dasar akademik sehingga kritik yang dihasilkan terasa hambar dan tandus. Kritikus juga harus berjiwa besar agar tidak membawa konflik yang tidak perlu antara pengarang dan kritikus, untuk hal tersebut Jassin mempunyai kiat-kiat tersendiri: ketika Jassin tidak senang pada seseorang, ia tidak akan menyerang begitu saja lewat kritik, biasanya Jassin akan mengumpulkan fakta tentang sisi baik dan buruk suatu karya dan saat semua informasi terasa kuat, baru ia akan menyerang melalui kritik yang dibuat. Dengan begitu Jassin bisa objektif dalam subjektivitas sehingga dapat objektivitas dalam subjektif. Dan syarat mutlak terakhir adalah memiliki banyak jam terbang agar pendapatnya tidak dogmatis, bersifat tetap, dan tidak berubah-ubah.

 

Meski kritik Jassin selalu didengar, namun ia selalu menekankan bahwa terhadap kritikus, pembaca harus kritis. Dan beberapa pembaca yang (mungkin) berlatar belakang akademik memiliki keberatan tersendiri pada kritik-kritik tersebut. Jassin dalam kritiknya dirasa kurang ilmiah dan bertendensi terlalu memakai perasaan. Ia juga dianggap mencampurkan politik di dalam sastra dan dinilai tidak adil terhadap pengarang Indonesia karena belum membicarakan semua pengarang Indonesia.

 

Kritik adalah media penilaian dan penghakiman sebuah karya. Dalam penghakiman dan penilaian tersebut, perlulah mempertimbangkan baik buruk yang diikuti alasan-alasan mengenai bentuk hasil kesusastraan untuk memberi penerangan. Dalam mengkritik, menurut Jassin perlulah kritikus memasuki jiwa karya untuk memunculkan kekuatan dan keindahan hakiki, kekal dan fana. Nilai yang terkandung di dalamnya baik menarik atau sebaliknya, nilai seni, dan sumbangsihnya pada dunia kesusastraan.

 

Kemampuan Jassin dalam kritik dan menerjemahkan membuatnya merasa perlu untuk meluruskan kasus-kasus plagiarisme. Sebagai contoh adalah beberapa sajak Chairil Anwar dan novel Hamka Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Untuk kasus Chairil, Jassin beranggapan bahwa memang benar jika Chairil melakukan plagiarisme, namun sajak yang dicap hasil plagiat itu justru diterjemahkan dengan baik sehingga mengandung jiwa Chairil sehingga sajak itu tidak terasa sebagai sajak terjemahan, kemudian lanjutnya lagi tidaklah tepat jika membanting rata karya Chairil lainnya sebagai sajak-sajak palgiat hanya karena sebagian kecil sajak plagiat. Jassin menyebut persoalan seperti ini sebagai proses pengaruh-mempengaruhi. Dan itu sangat wajar dalam dunia kesusastraan asalkan menyertakan pula sumber asli.

 

Berbeda dengan plagiarisme yang dialami Chairil, Jassin menahan untuk berkomentar mengenai Tenggelamnya Kapal van der Wijck karena ia tidak punya informasi dan fakta yang cukup. Keterbatasan akses buku sumber Sous les Tilleus yang berbahasa Prancis serta ketidakmampuannya berbahasa Arab sebagai bahasa terjemahan buku tersebut, membuat Jassin tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian atas bantuan A.S. Alatas yang menerjemahkan terjemahan bahasa Arab Sous les Tilleus ke bahasa Indonesia, maka Jassin berpendapat bahwa memang ada kesamaan plot dan gagasan yang hendak disampaikan oleh Hamka dan Karr, namun Hamka melibatkan pula pengalaman dan inspirasi pribadi sehingga tidak tepat jika ia dicap plagiat. Kesamaan-kesamaan antara kedua penulis tersebut, menurut Jassin, hanyalah sebuah kebetulan belaka, meski tidak dapat dibantah bahwa Hamka terpengaruh pula oleh Sous les Tilleus mengingat novel tersebut lebih dulu terbit pada tahun 1832 sedangkan Tenggelamnya Kapal van der Wijck tahun 1939.

 

Pernyataan tersebut disambut positif oleh banyak pihak, berkat pengaruh Jassin. Kemudian oleh Pamusuk Erneste dalam buku H.B. Jassin Paus Sastra Indonesia, Jassin dipanggil sebagai Pembela Sastra Indonesia atas rasa empatinya meluruskan segala macam tuduhan plagiat pada pengarang Indonesia.

 

Pengarang

 

Sampul depan buku Darah Laut. Foto: Satrioarismunandar6.blogspot.com.

 

Jassin pernah menerbitkan sebuah antologi cerpen Pancaran Cita bersama beberapa pengarang lain. Cerpen yang ia tulis berjudul Darah Laut. Meski lebih terkenal sebagai seorang kritikus sastra, namun bakat Jassin dalam menulis tidak bisa dipandang sebelah mata.

 

Cerpen tersebut, menurut Kusman K. Mahmud, berhasil mematahkan stigma negatif bahwa kritikus adalah pencipta yang gagal. Menurut beliau, cerpen Darah Laut adalah pancaran keremajaan Jassin dan konvensi sastra yang berlaku pada zamannya. Hal ini tentu tidaklah aneh, Jassin pernah berpendapat seorang kritikus harus berjiwa seni, ini menjelaskan bahwa Jassin yang piawai mengkritik sastra secara tidak langsung juga memiliki jiwa seni karang-mengarang. Dan ini dibuktikan dalam cerpen tersebut. Sayangnya, ia tidak terlalu fokus pada penulisan kreatif sehingga tidak banyak bahkan nyaris tidak ada karya sastra yang dapat dijadikan bahan untuk menelusuri Jassin di bidang penulisan kreatif.

 

Kelima poin di atas sebenarnya hasil dari pendidikan lingkungan yang tepat pada orang yang tepat. Sudah jadi rahasia umum bahwa 5 bidang tersebut dipengaruhi oleh 3 faktor lingkungan:

  1. Keluarga, terutama ayah H.B. Jassin yang memiliki koleksi buku pribadi.
  2. Sekolah, gurunya M.A. Duisterhof, pengajar sastra.
  3. Umum, perkenalan dengan tokoh sastra utamanya Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane.

 

Ketiga faktor tersebut berinteraksi langsung dengan Jassin lalu membentuk kepribadian yang sekarang kita kenal.

 

Pada masa jayanya, oleh Arief Budiman ia disebut “sebagai kritikus sastra yang bekerja secara cermat dan kontinu”. Namun pandangan lain diutarakan oleh Teeuw, ia mengatakan, “Tak dapat disangsikan bahwa sebagai seorang ahli esei dan kritik, Jassin tidak pernah mencapai tingkat kecermelangan Sitor atau Asrul, dan bahwa sumbangannya terhadap kritik sastra harus dipandang sebagai keterangan-keterangan yang dalam lagi berguna, dan bukan sebagai analisa yang mendalam dan mengagumkan.” Meski begitu, Teeuw tetap mengakui bahwa Jassin tak mungkin lagi dicari gantinya dan eksistensinya amatlah penting pada kesusastraan Indonesia.

 

Begitulah, H.B. Jassin. Walau ia sudah meninggal namun pemikiran-pemikirannya adalah sebuah monumen kokoh yang tidak (belum) tergoyahkan. Seorang jenius sastra yang tampuk kepausannya masih terasa, dan entah kapan akan lahir Jassin-Jassin lain. Kita berdoa semoga secepatnya.

 

Sumber: H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia karya Pamusuk Eneste.