Mengenal H.B. Jassin, Pausnya Kesusastraan Indonesia (Bagian 1)

Riswanto
Posted By Riswanto
04 Sep 2017
Mengenal H.B. Jassin, Pausnya Kesusastraan Indonesia (Bagian 1)

Foto: Wocoan.com.

 

Pandangannya terhadap sebuah karya sastra adalah barometer apakah seorang pengarang sudah layak disebut pengarang atau belum. Setiap pemikirannya adalah sesuatu yang tidak hanya dianggap konvensional melainkan juga inkonvensional dalam konteks jenius. Dan seorang yang jenius adalah ia yang mempunyai akses tak terbatas pada sumber pengetahuan. Ia hanya H.B. Jassin, Hans Bague Jassin, dan ia tidak mau ada satupun bukunya yang rusak.

 

Lahir pada 31 Juli 1917 di Gorontalo dari ayah seorang pegawai pemerintahan bernama Bague Mantu Jassin dan ibu rumah tangga bernama Habibah Jau, ia adalah salah satu, barangkali satu-satunya, kritikus sastra terkemuka Indonesia yang keberadaannya mempengaruhi bidang kritik karya sastra sampai saat ini. Bukunya berjudul Kesustraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang terbit tahun 1954 masih digunakan sebagai acuan kritik sastra sampai sekarang.

 

Jassin meninggal pada 11 Maret 2000 pada usianya yang ke-82 di Jakarta. Semasa hidup, telah banyak buku yang ia tulis, antara lain: Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 (1951), Tifa Penyair dan Daerahnya (1952), Kesustraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1954), Heboh Sastra (1968), Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (1981), Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983), Surat-surat 1943-1983 (1984). Selain buku yang ia tulis sendiri, setidaknya ada 16 buku yang ia terjemahkan dan telah terbit pada periode 1941-1985, beberapa di antaranya masih dicetak ulang sampai sekarang.

 

Berbeda dengan tokoh sastra Indonesia yang dikenal lewat karya berupa prosa dan puisi, Jassin justru dikenal sebagai dokumentator, redaktur, penerjemah, dan kritikus sastra ketimbang sebagai seorang pengarang meski ia sendiri pernah menelurkan beberapa karya sastra dalam sejarah hidupnya. Ketertarikannya pada dunia sastra berawal dari kegemarannya membaca. Ayahnya adalah seorang kutu buku yang memiliki perpustakaan pribadi, dan Jassin membaca buku-buku milik ayahnya meski beberapa buku harus ia baca secara sembunyi-sembunyi. Dari kegemaran ayahnya pula ia menyukai dunia dokumentasi, dan dunia tersebut saling berhubungan dengan dunia lain Jassin di masa depan.

 

Jiwa Jassin terbelah ke dalam beberapa disiplin yang kesemuanya berhubungan erat dengan kesusastraan: dokumentator, penerjemah, redaktur, kritikus, dan pengarang. Lengkap sudah perannya dalam dunia literasi. Tak salah jika jiwa-jiwa Jassin tersebut berimbas pada tahun-tahun sepeninggalannya di dunia.

 

Dokumentator

 

Dokumentasi berfungsi sebagai sumber ilmu untuk hasil-hasil studi berupa pembicaraan dan kritik sastra, antologi puisi, untuk mengenali masalah kesusastraan dan pengarang, latar belakang dan sejarah sastra. Fungsi tersebut adalah fungsi dokumentasi menurut H.B. Jassin.

 

Apabila dirunut karir Jassin dari masih sangat muda, maka kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya semua itu berawal dari bidang dokumentasi. Seiring berjalannya waktu, bidang ini saling menjalin interaksi dan berkaitan dengan karir Jassin di bidang lain, utamanya kritik sastra.

 

Sejak kecil Jassin sangat dekat dengan buku, setiap ia mempunyai kesempatan untuk meminta hadiah pada orang tuanya, ia akan meminta sebuah buku dan setiap koleksi bukunya ia jaga dengan baik.

 

Seperti yang telah disebut di atas, dokumentasi Jassin mempengaruhi kritik sastranya sehingga ia punya keleluasaan terhadap kritik-kritiknya. Jassin beranggapan bahwa dokumentasi bermanfaat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam dan memperluasnya. Itu menjelaskan pemakaian sumber-sumber yang ia dokumentasikan untuk selanjutnya diterapkan pada kritik yang ia buat.

 

Hobi dokumentasi dan kecintaanya pada dunia sastra memunculkan keinginan untuk membangun sebuah pusat dokumentasi sastra Indonesia. Wacana ini muncul pada tahun 1967, sempat tenggelam sebelum akhirnya muncul lagi pada tahun 1975. Jassin berhasil membangun pusat dokumentasi bernama Dokumentasi H.B. Jassin, kemudian pada 30 Mei 1977 diubah menjadi bentuk yayasan. Sebelum itu semua terjadi, Jassin sudah melakukan pembinaan sejak tahun 1940. Pusat dokumentasi tersebut beralamatkan di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta.

 

Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Foto: Bonekarusia.wordpress.com.

 

Jauh sebelum itu semua, tepatnya ketika Jassin bekerja sebagai pegawai pemerintah di Gorontalo selama 5 bulan, ia mendapatkan beragam informasi dan ilmu mengenai dokumentasi. Ini adalah kebetulan yang dijadikan modal awal Jassin untuk mengembangkan hobinya mendokumentasi.

 

Ketertarikannya terhadap dokumentasi dapat dibuktikan dengan melihat catatan-catatan dalam bentuk buku harian sejak tahun 1932 dan tulisan-tulisan serta surat kabar dan majalah milik Jassin di Universitas Indonesia (UI).

 

Dokumentasi hanyalah riak pertama Jassin yang membangunkan gelombang yang lebih besar lagi. Manfaat dokumentasi membawa banyak kemudahan bagi Jassin, termasuk kesempatan yang diberikan Sutan Takdir Alisjahbana untuk bekerja di Balai Pustaka dan eksis sebagai seorang redaktur. Namun, sebelum menelusuri pengaruh dokumentasi di dunia redaksi, ada baiknya kita menelusuri bidang lain: penerjemahan.

 

Penerjemah

 

Idealisme Jassin dalam menerjemahkan membawanya sebagai salah satu penerjemah terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Berdasar ucapan Jassin di atas, ia selalu berupaya untuk tidak menerjemahkan sebuah buku dari terjemahan. Penting bagi Jassin untuk mempertahankan gagasan sumber, sedangkan struktur kalimatnya,menurut Jassin, sah untuk tidak dipertahankan.

 

Gagasan sumber inilah yang membuat Jassin berusaha menerjemahkan karya dari bahasa sumber. Ia menghindari pengaburan gagasan yang dapat terjadi pada terjemahan yang dijadikan sumber. Meski begitu, Jassin juga tidak menutup kemungkinan untuk mengambil terjemahan kedua, yaitu terjemahan dari terjemahan sebagai acuan karya lain. Dan ini terjadi pada saat klaim Abdullah Sp. yang menyatakan bahwa Tenggelamnya Kapal van der Wijck karangan Hamka adalah plagiat dari buku Sous les Tilleus karangan penulis Prancis, Alphonse Karr. Jassin memakai terjemahan bahasa Indonesia buku tersebut yang berjudul Magdalena yang diterjemahkan oleh A.S. Alatas. Sebagai seorang penerjemah, Jassin juga sering menangani tuduhan plagiarisme pengarang Indonesia yang menerjemahkan sebuah karya tanpa mencantumkan sumber asli. Hal ini berkaitan dengan H.B. Jassin sebagai seorang kritikus.

 

Jassin berpandangan bahwa tidak selamanya menerjemahkan karya asli lebih baik daripada menerjemahkan terjemahan. Meski berbahaya, Jassin tidak menolak jika harus menerjemahkan terjemahan jika hasilnya lebih baik. Dan ia membuktikan dengan menerjemahkan Chushingura dari bahasa Inggris, bukan dari bahasa Jepang yang merupakan bahasa aslinya. Lalu Kisah-kisah dari Rumania yang diterjemahkan dari bahasa Prancis, bukan dari bahasa Rumania.

 

Kepiawaiannya menerjemahkan membuatnya diganjar Martinus Nijhoff dari Belanda pada tahun 1973 atas terjemahan Max Havelaar karangan Multatulli. Selain menerjemahkan dari bahasa Belanda, Jassin juga menerjemahkan tulisan dari berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, Arab, dan Jerman. Beberapa bahasa sumber tidak dikuasai Jassin, seperti saat ia menerjemahkan Al-Qur’an yang memakai bahasa Arab, walau begitu ia tetap memilih untuk menerjemahkan Al-Qur’an dari bahasa Arab ketimbang dari bahasa Eropa yang akan jauh lebih mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

 

Tentang terjemahan, menurut Jassin terjemahan dapat bermanfaat untuk mempertajam dan memperbaiki cara menyatakan gagasan  dan pikiran pengarang asli yang hendak dialihbahasakan. Penerjemahan juga bermanfaat membuka wawasan masyarakat yang selama ini masih tertutup, asalkan, “Pintu-pintu dan jendela-jendela harus dibuka luas-luas untuk memasukkan pikiran-pikiran segar”. Seluk beluk pemikiran Jassin mengenai penerjemahan sangatlah kompleks, dan idealisme-idealisme yang dipertahankan Jassin tersebut membawanya ke dalam penghargaan dan apresiasi tertinggi di dunia kesusatraan Indonesia.

 

Untuk pencapaian-pencapaian besar di bidang terjemahan, sebenarnya Jassin belajar penerjemahan dari Armijn Pane. Dari Armijn ia juga belajar melakukan editing, menulis cerpen, dan membicarakan buku yang baik di media cetak atau radio. Armijn juga selalu menganjurkan agar Jassin tidak hanya membaca buku yang hendak dibicarakan, namun membaca pula buku-buku yang ada kaitannya.

 

Ilmu-ilmu yang dipelajari Jassin dari Armijn Pane membawanya ke batas baru: Dunia Kritik Sastra dan Dokumentasi.

 

Sumber: H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia karya Pamusuk Eneste.