Dea Salsabila Amira, Ingin Menyejahterakan Petani Lewat Ur-Farm

Tulus Muliawan
Posted By Tulus Muliawan
04 May 2017
Dea Salsabila Amira, Ingin Menyejahterakan Petani Lewat Ur-Farm
Dea Salsabila Amira, founder Ur-Farm. Foto: dokumentasi pribadi.

Ingin berkontribusi untuk negeri. Mungkin itulah misi utama yang melandasi perempuan cantik bernama Dea Salsabila Amira saat memutuskan untuk membangun start-up di bidang pertanian bernama Ur-Farm pada tahun 2016.

"Ur-Farm is a social business. Kita provide platform online dan juga offline untuk produk-produk organik yang memiliki sertifikasi. Produk-produk ini diambil langsung dari para petani organik lokal dan pelaku ukm hijau," kata Dea saat diwawancarai GudLak beberapa waktu lalu.

Ur-farm hadir untuk memberi pemasukan yang adil kepada petani kecil sekaligus harga yang terjangkau untuk konsumen. Dea memilih fokus ke organik karena ia melihat sayur dan buah organik memberikan banyak keuntungan, baik untuk tanah, lingkungan, dan siapapun yang mengonsumsinya.

Produk organik 100 persen tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia lain, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi dan lebih bernutrisi. Dari segi harga, produk Ur-Farm juga tidak kalah bersaing dengan produk sayur konvensional karena produknya diambil langsung dari petani.

"Kenapa bisa lebih murah, karena kami mengambilnya langsung dari petani, sehingga tidak ada lagi rantai pasok yang panjang seperti sistem konvensional. Konsumen tinggal order, kemudian kami mengantar langsung ke rumah," ucap alumni Universitas Mercu Buana itu.

Menurut pengakuan Dea, Ur-Farm terinspirasi dari sejumlah kegiatan yang ia jalani pada tahun 2015. Kegiatan itu meliputi program social entrepreneur yang digelar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta serta konferensi perubahan iklim bersama PBB yang ia ikuti di Swiss.

"Setelah melakukan research mengenai climate change saya baru tau bahwa ternyata small farmers contribute to climate change mitigation. Nah akhirnya dari situ lah saya mulai membuat prototyping tentang ur-farm," ucap perempuan 22 tahun yang gemar menonton film ini.

Dari survei yang ia lakukan, ia menemukan bahwa permasalahan rantai pasok petani di Indonesia sangat rumit. Menurut data dari Kementerian Pertanian, harga hasil pertanian dari petani ke konsumen kenaikan nya 200% karena terlalu banyak pihak yang terlibat dalam rantai pasok ini.


Salah satu petani Ur-Farm. Foto: dokumentasi pribadi.

Ingin Menyejahterakan Petani

Ur-Farm tidak akan berjalan tanpa peran dari petani, oleh karena itu Dea dan kawan-kawan merelakan waktu dan uang untuk survei, mencari petani, dan berkomunikasi secara langsung dengan petani. Semua dilakukan demi memperlancar usahanya.

"Trust is the key. Tentunya kami berhubungan dengan petani melalui pendekatan-pendekatan, tidak bisa langsung, it take times. Tapi ketika mereka tau value yang kita berikan kepada mereka sangatlah banyak. They don’t hesitate to join us," ungkap Dea.

Dea menuturkan, keberadaan Ur-Farm sudah memberikan banyak manfaat kepada para petani, salah satunya adalah keuntungan secara finansial. Jika dulu petani hanya mendapatkan keuntungan 20 persen setiap panen, setelah bergabung dengan Ur-Farm mereka mendapat keuntungan mencapai 100 persen.

"Kami bukan tengkulak, so kami tidak ambil keuntungan dari petani. Misi kami adalah untuk membuat mereka sejahtera. Because if there is no farmers, there will be no food. Jika jumlah petani makin sedikit, makin berasa juga ancaman tidak adanya food security di Indonesia," katanya.

"Selain itu, kami juga memberikan dampak yang baik bagi konsumen yang memilih servis kami. Karena pada dasarnya produk kami 100% organik dan fresh, konsumen merasakan manfaat tersebut di tubuh mereka."

Meski baru berjalan satu tahun, Ur-Farm sudah merambah ke dunia internasional walaupun masih melalui kompetisi. Ur-Farm merupakan salah satu startup Indonesia yang dipilih BEKRAF untuk menjadi representative startup Indonesia di panggung startup Istanbul pada Oktober 2016.

"Kami juga memenangkan “Best Presentation on Sustainable Development with Entrepreneurial Spirit” dari CCSI, UN Hongkong. Kami juga masuk dalam nominasi 17 Inaugural Flourish Prizes at the 4th Global Forum di Cleveland, Amerika Serikat. Mohon doanya semoga kami bisa menang," ujar Dea.

Saat ini, Ur-Farm fokus untuk perkuat konsumen kami di Jabodetabek. Dea dan kawan-kawan juga sedang fokus melakukan sosialisasi tentang manfaat produk organik untuk konsumen. Mereka ingin menghilangkan paradigma bahwa produk organik harganya terlalu mahal untuk dikonsumsi setiap hari.

"Asumsi itu hadir karena produk organik yang dikonsumsi selama ini kebanyakan diimpor dari luar negeri sehingga harganya pun tidak fit dengan kantong lokal. Sedangkan produk-produk Ur-Farm karena memang kami petaninya lokal, jadi tentu harganya lebih terjangkau," ucap Dea.

Di akhir perbincangan, Dea berharap bisnisnya bisa berjalan dengan lancar dan semakin berkembang. Ia tidak ingin hanya memikirkan keuntungan pribadi, tapi juga manfaat yang lebih luas baik untuk petani, maupun para konsumen. Sesuai dengan misi utamanya, yaitu berkontribusi untuk negeri.

"Intinya apa yang saya lakukan selama ini tujuannya satu, saya mau memberikan dampak yang baik untuk masyarakat. Tentunya dengan mewakili dan membawa nama Indonesia dengan baik di berbagai forum internasional. Itu merupakan bentuk kontribusi saya untuk negeri," tutur Dea.